Inisiasi Penguatan Kompetensi, Perpusnas Ingin Pustakawan Lebih Dinamis

  • Home
  • Inisiasi Penguatan Kompetensi, Perpusnas Ingin Pustakawan Lebih Dinamis
Blog Details

Inisiasi Penguatan Kompetensi, Perpusnas Ingin Pustakawan Lebih Dinamis

Jakarta - Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menggelar Forum Prakonvensi Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bidang Perpustakaan. Forum tersebut menginisiasi penguatan kompetensi pustakawan melalui sebagai langkah strategis. Perpusnas menjaga standar profesi Pustakawan tetap relevan, adaptif, dan mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi, serta dinamika sosial masyarakat.

Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso, dalam forum tersebut menegaskan bahwa revisi SKKNI menjadi kebutuhan mendesak agar standar kompetensi yang digunakan tetap selaras dengan perkembangan teknologi, kebutuhan industri, dan kondisi sosial masyarakat.

“Saya menyadari terdapat perubahan kompetensi yang sangat signifikan. Oleh karena itu, SKKNI harus adaptif terhadap disrupsi dan perkembangan zaman,” ungkapnya, Selasa (13/1/2026).

Revisi SKKNI ini juga sejalan dengan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 3 Tahun 2016 yang mengamanatkan peninjauan SKKNI setiap lima tahun. Peninjauan tersebut bertujuan  memastikan standar kompetensi kerja profesi tetap relevan dengan dinamika pasar kerja.

Menurut Joko, SKKNI merupakan upaya strategis untuk menjamin keberlanjutan dan pengakuan profesi pustakawan, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Pustakawan kini menjadi profesi multi peran dan bergerak di multi sektor dan membutuhkan multi kompetensi. SKKNI akan menjadi fondasi bagi sertifikasi profesi, pengembangan karier, kurikulum pendidikan ilmu perpustakaan, serta peningkatan kualitas SDM perpustakaan secara berkelanjutan,” jelasnya.

Joko juga menambahkan, Perpusnas sebagai instansi pembina memiliki tanggung jawab besar memastikan pengembangan SKKNI selaras dengan tujuan pembangunan nasional, Asta Cita, dan visi Indonesia Emas 2045.

“Harapannya, pustakawan dapat berkontribusi nyata dalam peningkatan literasi, transformasi digital, pelestarian pengetahuan lokal, hingga mendukung pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan,” katanya.

Ia mengungkapkan, profesi pustakawan terus bergerak dinamis seiring perubahan zaman. Terlebih, menurutnya, teknologi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terus mengalami perkembangan.

“Perkembangan AI menjadi refleksi juga bagi pekerjaan kita saat ini. Tuntutan kompetensi pustakawan semakin berkembang seiring berkembangnya teknologi informasi digital,” ujarnya,

Pada kesempatan itu, dirinya mengajak seluruh pihak yang terlibat untuk berkolaborasi dan berdiskusi secara konstruktif. “SKKNI adalah marwah profesi kita. Masa depan pustakawan Indonesia sangat dipengaruhi oleh forum ini. Saya berharap lahir SKKNI yang visioner, aplikatif, dan berdaya saing,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Pembinaan Pustakawan Perpusnas, Agus Sutoyo, menyampaikan bahwa penyusunan Rancangan SKKNI Bidang Perpustakaan merupakan proses yang kompleks dan penuh tantangan. Namun, dengan keahlian Tim Perumus serta komitmen dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, pembahasan prakonvensi dapat berjalan optimal.

Forum ini turut dihadiri Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas Adin Bondar, Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Suharyanto, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta Nasruddin Djoko Surjono, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Barat Kusmana Hartadji, para pimpinan dan anggota Komite SKKNI Bidang Perpustakaan, Tim Verifikasi, Tim Perumus SKKNI, serta pemangku kepentingan lainnya.

 

Reporter: Sonia Adelina

Editor: Basma Sartika

Dokumentasi: Aji Anwar