Jakarta - Sebagai implementasi Program Bakti Perpusnas, Deputi Bidang Pengembangan Bahan dan Jasa Informasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Suharyanto, melakukan kunjungan kerja bersifat sosial ke Kampung Buku, Ciracas pada hari Senin, (12/1/2025).
Program tersebut tertuang dalam Surat Edaran Sekretaris Utama Perpusnas Nomor B.288/2/PPP.06.00/I.2026 tentang Program Bakti Perpusnas pada saat Kedinasan dari Manapun (KDM).
Ia menjelaskan, tujuan utama Program Bakti Perpusnas adalah membantu pengelolaan perpustakaan, khususnya di wilayah Jabodetabek. Bantuan tersebut meliputi perpustakaan seperti di sekolah, madrasah, pesantren, perguruan tinggi, perpustakaan umum, atau perpustakaan di Taman Baca Masyarakat (TBM) untuk penguatan budaya baca dan peningkatan kecakapan literasi.
Deputi Bidang Pengembangan Bahan dan Jasa Informasi Perpustakaan memulai Program Bakti Perpusnas dengan lebih banyak mendengarkan program-program terkait kepustakaan dan peningkatan budaya baca. “Saya ingin mendengar langsung dari teman-teman yang bergerak di lapangan, program apa saja yang efektif untuk dapat diterapkan,” ungkapnya.
“Mulai 2026, para pustakawan Perpusnas akan diterjunkan langsung ke lapangan, khususnya setiap hari Senin, yang kami tetapkan sebagai Hari Bakti Pustakawan. Mereka akan mendampingi dan mendukung pengelolaan perpustakaan di wilayah Jabodetabek,” tambahnya.
Kunjungan diterima langsung oleh pendiri Kampung Buku, Edi Dimyati beserta tim pengelola Kampung Buku.
Dalam kesempatan ini, Suharyanto juga menyampaikan apresiasi kepada pendiri Kampung Buku, yang telah bergerak kurang lebih hampir 20 tahun di dunia baca dan literasi masyarakat. Atas dedikasinya tersebut, Kampung Buku mendapat penghargaan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta sebagai Taman Baca Masyarakat Terbaik Tingkat Provinsi DKI Jakarta Tahun 2025.
Menanggapi hal tersebut, pendiri Kampung Buku sekaligus sebagai anggota Relawan Literasi Masyarakat (Relima), Edi Dimyati menyambut baik Program Bakti Perpusnas. Menurutnya, kehadiran berbagai kegiatan melalui program tersebut akan sangat membantu pengelola perpustakaan masyarakat dan TBM.
“Dengan adanya kegiatan dan aktivitas, perpustakaan masyarakat atau TBM akan menjadi lebih hidup. Kami tidak harus selalu diberi bantuan berupa barang, cukup dibantu aktivitasnya saja kami sudah sangat senang. Melihat anak-anak riang dan gembira saja itu sudah sangat membahagiakan bagi kami,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan pendekatan kegiatan pelaksanaan Program Bakti Perpusnas perlu disesuaikan dengan karakter anak-anak. Menurutnya, anak-anak pada umumnya lebih menyukai kegiatan yang gembira dan menyenangkan tetapi tetap mengandung unsur edukasi.
“Misalnya mengenalkan, mengedukasi sesuatu yang belum pernah mereka dapatkan yang dikemas dengan unik dan menarik. Contoh, mengenalkan profesi-profesi. Itu jarang sekali anak-anak dapatkan. Kita bisa perkenalkan profesi khususnya pustakawan, misalnya. Informasi seperti itu belum tentu mereka dapatkan di tempat lain,” jelasnya.
Edi menambahkan, TBM yang tersebar di wilayah Jabodetabek memiliki karakteristik yang berbeda-beda, sesuai dengan budaya dan lingkungan setempat.
“Hal ini juga perlu diperhatikan agar dapat membuat kegiatan yang sesuai dengan kondisi masing-masing. Misalnya, taman baca pesisir di Cilincing tentu berbeda dengan taman baca yang ada di bawah kolong jembatan di Tangerang. Kita bisa datang terlebih dahulu, bermain ke taman baca baru kemudian kita dapat merancang kegiatan apa yang sesuai dengan TBM tersebut,” pungkasnya.
Reporter: Anastasia Lily
Editor: Dyah R. Sugiyanto
Dokumentasi: Putu Handira Prawijaya